Kamis, 05 April 2018

3rd: Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran

A. Teori pemrosesan Informasi

            Asumsi  yang  mendasari  teori  pemrosesan  informasi  adalah  bahwa pembelajaran  merupakan  faktor  yang  sangat  penting  dalam  perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam  pembelajaran  terjadi  proses  penerimaan  informasi,  untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
            Dalam  pemrosesan  informasi  terjadi  adanya  interaksi  antara  kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam  diri  individu  yang  diperlukan  untuk  mencapai  hasil  belajar  dan  proses kognitif  yang  terjadi  dalam  individu.  Sedangkan  kondisi  eksternal  adalah rangsangan  dari  lingkungan  yang  mempengaruhi  individu  dalam  proses pembelajaran.
            Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar  yang menjelaskan  pemrosesan,  penyimpanan,  dan  pemanggilan  kembali pengetahuan  dari  otak.  Teori  ini  menjelaskan  bagaimana  seseorang memperoleh  sejumlah  informasi  dan  dapat  diingat  dalam  waktu  yang  cukup  lama.  Oleh  karena  itu  perlu  menerapkan  suatu  strategi  belajar  tertentu  yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa alat indera.


B. Asumsi yang Mendasari Teori Pemrosesan Informasi

Dalam  upaya  menjelaskan  bagaimana  suatu  informasi  (pesan pengajaran)  diterima,  disandi,  disimpan,  dan  dimunculkan  kembali  dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan  model pemprosesan  informasi  oleh beberapa pakar. Teori-teori  tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi yaitu:

a.  Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemprosesan informasi  di  mana  pada  masing-masing  tahapan  dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b.  Stimulus  yang  diproses  melalui  tahapan-tahapan  tadi  akan  mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c.  Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas. Dari  ketiga  asumsi  tersebut,  dikembangkan  teori  tentang  komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol).


C.  Komponen Pemrosesan Informasi

Komponen  pemrosesan  informasi  dipilah  menjadi  berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”.

Ketiga komponen itu adalah sebagai berikut:
1.  Sensory Receptor (SR)
Sensory  Receptor  (SR)  merupakan  sel  tempat  pertama  kali  informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi  hanya  dapat  bertahan  dalam  waktu  yang  sangat  singkat,  dan informasi ntadi mudah terganggu atau berganti.

2.  Working Memory (WM)
Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi  perhatian oleh  individu.  Pemberian  perhatian  ini  dipengarui  oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 
a.  Ia  memiliki  kapasitas  yang  tebatas,  lebih  kurang  7  slots.  Informasi  di dalamnya  hanya  mampu  bertahan  kurang  lebih  15  detik  apabila  tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 
b.  Informasi  dapat  disandi  dalam  bentuk  yang  berbeda  dari  stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan  informasi  yang  kedua  berkaitan  dengan  peran  proses kontrol.  Artinya,  agar  informasi  dapat  bertahan  dalam  WM,  maka upayakan  jumlah  informasi  tidak  melebihi  kapasitas  WM  disamping melakukan rehearsal (pengulangan).  Sedangkan  penyandian  pada tahap WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantic, dipengaruhi oleh  peran  proses  kontrol  dan  seseorang  dapat  denga  sadar mengendalikannya.

3.  Long Term Memory (LTM)
Long  Term  Memory  (LTM)  diasumsikan:  1)  berisi  semua pengetahuan  yang  telah  dimiliki oleh  individu,  2)  mempunyai  kapasitas tidak  terbatas,  dan  3)  bahwa  sekali  informasi  disimpan  di  dalam  LTM  ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Persoalan” lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang diperlukan. Ini berarti , jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan  proses  penelusuran  dan  pemunculan  kembali  informasi  jika diperlukan.  Tennyson  (1989)  mengemukakan bahwa  proses  penyimpanan informasi  merupakan  proses  mengasimilasikan  pengetahuan  baru  pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base).


D.  Pengolahan Informasi

Hal-hal  yang  berkaitan  dengan  pengolahan  informasi  supaya informasi  (pesan)  tersebut  dapat  diterima  oleh  si  penerima  informasi, diantaranya:
1. Pesan,  merupakan  informasi  yang  disampaikan  berupa  isi,  makna, pengertian dari materi pengajaran atau bahan pelajaran.
2. Media  yang  terdiri  dari  perangkat  lunak  dan  perangkat  keras  di  siapkan untuk menyajikan pesan terpilih, misalnya modul dan slide suara
3. Intruktor,  adalah  orang  yang  mengendalikan,  menyajikan  atau mentransmisikan  informasi,  pesan,  isi,  makna,  pengertian  dari  materi instruksional.
4. Metode,  adalah  teknik-teknik  tertentu  yang  di  pergunakan  agar  penyajian informasi menjadi efektif.
5.Lingkungan berupa kindisi-kondisi tertentu yang dikendalikan, diatur atau di manipulasi guna menciptakan pengajaran yang kondusif.


E.  Usaha meningkatkan memori

Meningkatkan kemampuan memori dalam pemrosesan informasi tentu menjadi dambaan setiap orang. Namun dibutuhkan suatu usaha untuk bisa memproses informasi dengan baik. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerja memori dengan baik.

1.    Perhatian (attention)
Dalam pemrosesan informasi perhatian adalah syarat utama seseorang dapat memperoleh informasi. Fokuskan perhatian kepada suatu informasi yang ingin diketahui akan lebih mempermudah proses encoding sehingga pada saat perhatian gangguan-gangguan yang dapat merusak perhatian harus diminimalisir. Dalam proses pembelajaran, guru perlu menarik perhatian siswa dan menyedikan sarana prasarana belajar yang mendukung untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran.

2.    Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) diperlukan untuk mempertahankan informasi pada saat akan di encoding sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjang.

3.    Khususkan konteks atau bahan untuk mudah diingat dengan hal-hal yang lain
Informasi yang ingin diperoleh hendaknya berhubungan dengan informasi yang lain sehingga mudah cara pemanggilannya. Cara ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri dan membuat catatan dengan baik. Mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri setelah membaca atau memperoleh suatu informasi akan mengembangkan asosiasi dengan informasi yang berhubungan atau perlu diambil dari memori. Mencatat informasi yang diperoleh sangat berguna untuk tetap menjaga informasi itu agar tidak hilang karena berlalunya waktu.

4.    Pengorganisasian informasi dengan menggunakan strategi
Beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk bisa mengorganisasikan informasi adalah dengan mnemonic. King (2007: 441) menyatakan bahwa strategi mnemonic adalah bantuan ingatan visual dan/atau verbal. Berikut ini adalah tiga jenis cara mnemonic.
a. Metode loci, anak menyusun imaji/citra dari suatu item yang akan diingat dan membayangkan anak tersebut menyimpannya dalam lokasi yang dikenali. Misalnya jika anak harus mengingat sederetan konsep maka mereka bisa membayangkan meletakkannya di rumah rumah mereka, seperti di kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan sebagainya. Pada saat anak perlu mengambil kembali informasi tersebut, anak bisa membayangkan rumahnya lalu membayangkan dirinya berjalan di ruang-ruang untuk mengambil konsep itu.
b.    Metode kata kunci, metode ini diterapkan dengan melekatkan imaji kepada dengan kata-kata yang penting. Misalnya ketika menerangkan variabel x pada siswa, kita bisa membuat perumpamaan jika variabel x itu adalah kue atau apel.
c.    Akronim, metode ini menciptakan kata dari huruf pertama item yang akan diingat. Misalnya untuk menghafalkan warna pelangi bisa dihafalkan dengan cara mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu)


F.  Aplikasi dalam Pembelajaran

Aplikasi teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran bisa dilakukan dengan menggunakan teori Gagne yaitu kondisi-kondisi pembelajaran dan bisa juga dilakukan dengan menerapkan strategi pembelajaran PQ4R dan SQ3R. Berikut ini adalah penjelasannya.

1.    Teori pembelajaran Gagne
Salah satu teori pengajaran yang paling populer berdasarkan prinsip-prinsip kognitif adalah teori pengajaran yang dirumuskan oleh Robert Gagene (1985).
            Pada teori ini terdapat sembilan fase pembelajaran yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu persiapan, tahap pembelajaran utama atau inti, dan tahap transfer belajar. Pada tahap persiapan untuk belajar mencakup aktivitas-aktivitas memerhatikan, harapan, penarikan. Sementara pada tahap pembelajaran utama atau inti adalah penguasaan dan praktik yang terdiri dari persepsi selektif, pengkodean semantik, penarikan dan pemberian respons dan penguatan. Pada tahap transfer belajar meliputi pemberian tanda untuk penarikan dan generalisabilitas.  

2.    Penggunaan strategi pembelajaran SQ3R dan PQ4R
SQ3R merupakan salah satu strategi pembelajaran dalam yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran yang memiliki singkatan dari Survey, Question, Read, Recite, Review. Sementara PQ4R merupakan strategi pembelajaran yang lebih baru dari SQ3R dengan tambahan R yaitu Reflect. Metode ini dikembangkan oleh Thomas Robinson yang termasuk ke dalam strategi elaborasi. PQ4R merupakan singkatan dari Preview, Question, Read, Recite, Review dan Reflect. Berikut ini langkah penerapan metode PQ4R menurut Santrock (2013:336-337).
a.  Preview, kegiatan membaca sepintas atau mensurvei materi yang akan dipelajari secara ringkas.
b.   Question, kegiatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri mengenai materi yang telah dibaca tadi.
c.    Read, kegiatan ini menyuruh siswa untuk membaca secara aktif tentang bacaan tadi yang hanya dibaca secara sepintas. Pada saat kegiatan ini usahakan agar siswa dapat berkonsentrasi dan mampu memahami apa yang disampaikan dalam bacaan
d.   Reflect, merupakan kegiatan untuk memahami informasi yang ada. Pada proses ini bisa dilakukan dengan cara menghubungkan informasi yang diperolehnya dengan informasi yang sudah ada di memorinya. Siswa juga dapat berhenti sesekali untuk merenungkan dan memikirkan interpretasi dari informasi yang diterima.
e.    Recite, merupakan tahap untuk mengingat kembali informasi yang telah dipelajari dengan cara membuat rangkuman (intisari) dari konsep-konsep sebelumnya. Pada tahap ini siswa bisa menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya telah diajukan.
f.     Review, pada tahap ini kegiatan siswa untuk membaca rangkuman (intisari ) yang telah dibuatnya dan telah menjawab pertanyaan yang telah diajukannya untuk mengevaluasi rangkuman dan jawabannya dengan cara membaca kembali informasi atau materi yang dipelajari.


Permasalahan

1. Bagaimana pemanfaatan media pembelajaran dalam peristiwa pemrosesan informasi pada kognitif seseorang ?

2. Bagaimana peristiwa “pemanggilan kembali pengetahuan” dalam otak menurut teori pemrosesan informasi?

3. Jelaskan perbedaan serta maksud dari long-term memory dan short-term memory pada teori pemrosesan informasi?

Kamis, 29 Maret 2018

2nd: Prinsip Dasar Multimedia Pembelajaran


Prinsip Pengembangan Multimedia Pembelajaran

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan, partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik (Abdul Gafur, 2007: 20-22).

1. Prinsip kesiapan dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik untuk menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik  (Abdul Gafur, 2007: 20).

2. Penggunaan alat pemusat perhatian dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini membantu konsentrasi peserta didik dalam memahami isi pelajaran sehingga penguasaan mereka menjadi lebih baik.

3. Prinsip pengulangan harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran karena informasi atau keterampilan baru jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan.

4. Proses belajar mengajar akan lebih berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik. Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif (interaktif) dalam proses belajar

5. Umpan balik yang diberikan oleh pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk selalu meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus memberikan respon umpan balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta didik


Prinsip-Prinsip Multimedia untuk Pembelajaran

Menurut Mayer (2001) ada dua belas prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, yaitu :
1)        Prinsip Multimedia
Orang belajar lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi single-media.

2)        Prinsip Kesinambungan Spasial
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (atau video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.

3)        Prinsip Kesinambungan Waktu
Orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks, misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama lain. Begitu kata Mayer.

4)        Prinsip Koherensi
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan. Jangan bertele-tele.

5)        Prinsip Modalitas Belajar
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini akan sangat mengganggu.

6)        Prinsip Redudansi
Orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan).Jadi, jangan redudans  kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, untuk menghindari tumpang tindih dengan teks yang terlalu panjang.

7)        Prinsip Personalisasi
Orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik  menggunakan kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis,  oleh karena itu, sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit bergaya.

8)        Prinsip Interaktivitas
Orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game, branching).          Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat interaktivitas makin tinggi.

9)        Prinsip Sinyal (cue, highlight, ..)
Orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.

10)    Prinsip Perbedaan Individu
Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya. Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.

11) Prinsip Praktek                                
       Interaksi adalah hal terbaik untuk belajar, kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang sedang dipelajari.

12) Pengandaian
Menjelaskan materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.

Kesimpulannya, penggunaan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio/narasi, animasi, simulasi, video) secara efektif untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar.


Pemilihan Media Pembelajaran

Untuk menghasilkan media pembelajaran yang baik perlu dilakukan dengan menempuh prosedur yang benar dalam proses pengembangannya. Soulier sebagaimana dikutip oleh Sunarto (2002) menjelaskan bahwa tahapan pengembangan media khususnya yang berbantuan komputer meliputi:
a)      Analysis
Sebelum mengembangkan media, terlebih dahulu harus dilakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan cara observasi lapangan atau melalui kajian pustaka.
b)      Design
Tahap desain mencakup desain pembelajaran dan desain produk media. Tahap desain pembelajaran meliputi komponen: identitas, standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, rancangan evaluasi, dan sumber bahan. Sedangkan desain produk media   mencakup elemen: struktur diagram alir, storyboard, dan elemen gambar atau animasi.
c)      Development
Tahap ini adalah tahapan produksi media sesuai dengan desain yang direncanakan. Pada tahap ini dilakukan assembling (perakitan) berbagai elemen media yang diperlukan menjadi satu kesatuan media utuh yang siap digunakan.
d)      Evaluation
Evaluasi terhadap media pembelajaran dilakukan dengan dengan cara validasi oleh ahli materi dan ahli media, untuk mengetahui kualitas media yang telah dihasilkan. Selain dengan validasi ahli, evaluasi juga dilakukan dalam bentuk ujicoba oleh pengguna. Ujicoba media dilakukan dengan tiga tahap, yaitu ujicoba perorangan, ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan.
- Ujicoba perorangan dilakukan terhadap seorang peserta didik yang mewakili kelompok yang akan menjadi pengguna media tersebut. Untuk keperluan ujicoba, sebaiknya dipilih peserta didik yang kemampuannya sedikit di bawah kemampuan rata-rata.
- Ujicoba terhadap kelompok kecil dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil ujicoba perorangan. Ujicoba kelompok kecil ini diberikan terhadap 5-8 peserta didik yang memiliki kemampuan rata-rata kelompok. Setelah ujicoba kelompok kecil selesai, maka perlu dilakukan perbaikan atau revisi sesuai dengan temuan yang ada.
- Ujicoba lapangan dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang menjadi target penggunaan media, dalam situasi belajar yang sebenarnya. Jika tidak memungkinkan untuk mengujicobakan terhadap seluruh peserta didik secara lengkap, maka dapat diambil sampel sejumlah 20-30 orang.

            Sung Heum Lee (1999) menawarkan lima dimensi dalam uji penggunaan multimedia interaktif. Lima dimensi yang harus diuji adalah: learnability, performance efetiveness, flexibility, error tolerance & system integrity, dan user satisfaction.
1. Dimensi learnability bertujuan mengetahui tingkat kemampuan pengguna dalam mengoperasikan sistem untuk menghasilkan penguasaan kompetensi yang diharapkan.
2. Performance effectiveness dimaksudkan untuk mengukur kemudahan penggunaan sistem secara kuantitatif.
3. Flexsibility terkait dengan sejauh mana sistem memungkinkan user untuk mencapai tujuannya.
4. Error tolerance & system integrity dimaksudkan untuk menguji toleransi kesalahan dalam menggunakan sistem dan atau kemampuan sistem dalam mencegah kehilangan dan korupsi data.
5. Dimensi user satisfaction dimaksudkan untuk mengukur persepsi, perasaan, dan opini pengguna tentang sistem yang dihasilkan.


Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran

Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa prinsip-prinsip pemilihan media adalah:
(1)   harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa.
(2)   pemilihan media hams secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan atau hiburan. pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa.
(3)   tidak ada satu pun media dipakai untuk mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu
(4)   pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang integral dalam proses belajar mengajar
(5)   untuk dapat memilih media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media.
(6)   pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.

Sedangkan Ibrahim (1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih media pembelajaran, antara lain:
(1)   sebelum memilih media pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling baik untuk mencapai semua tujuan. masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan. penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran
(2)   pemilihan media hendaknya dilakukan secara objektif, artinya benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan
(3)   pernilihan media hendaknya memperhatikan syarat-syarat (a) sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (b) ketersediaan bahan media, (c) biaya pengadaan, dan (d) kualitas atau mutu teknik.
  
Menurut Asyhar (2011:82), prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut :
(1) Kesesuaian, media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik dan materi yang dipelajari, serta metode atau pengalaman belajar yang diberikan pada peserta didik.
(2) Kejelasan sajian, materi yang disajikan dalam media pembelajaran harus jelas dengan menggunakan kata – kata yang tepat, variasi huruf dan warna yang jelas sehingga lebih mudah untuk dipahami siswa
(3) Kemudahan akses, dalam pembuatan media pembelajaran juga harus diperhatikan bagaimana akses atau perangkat yang mendukung media tersebut agar tidak menjadi kendala dalam penggunaannya
(4) Keterjangkauan, dalam hal ini berkaitan dengan biaya yang akan dikeluarkan dalam pembuatan media. Media yang dibuat harus disesuaikan dengan kemampuan si pembuatnya.
(5) Ketersediaan, hal ini perlu dipertimbangkan dalam memilih media. Jadi harus tersedia media pengganti jika suatu media yang akan digunakan tidak tersedia
(6) Kualitas, Dalam hal ini sebaiknya dipilih media yang berkualitas tinggi.
(7) Ada alternatif, bahwa guru tidak hanya tergantung pada media tertentu saja tapi harus kreatif dan inovatif dalam melakukan pemilihan dan pengadaan media pembelajaran
(8) Interaktifitas, media yang baik adalah media yang dapat memberikan komunikasi dua arah secara interaktif
(9) Organisasi, dalam pembuatan media juga harus mendapat dukungan organisasi yang terkait.
(10) Kebaruan, semakin baru media yang digunakan semakin baik dan menarik  bagi siswa.
(11) Berorientasi siswa, perlu dipertimbangkan keuntungan dan kemudahan apa yang akan diperoleh siswa dengan media tersebut.

Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran adalah:
(a)   media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik siswa yang belajar (tingkat pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar)
(b)   untuk dapat memilih media dengan tepat, guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran
(c)   pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada siswa yang belajar, artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa
(d)   pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar

Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diturunkan sejumlah faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran yang dapat dipakai sebagai dasar dalam kegiatan pemilihan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
(1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
(2) karakteristik siswa atau sasaran
(3) jenis rangsangan belajar yang diinginkan
(4) keadaan latar atau lingkungan
(5) kondisi setempat
(6) luasnya jangkauan yang ingin dilayani


Permasalahan

1. Jelaskan bagaimana multimedia dapat mengatasi perbedaan individu dalam pembelajaran?

2. Kenapa pengembangan multimedia sebaiknya dilakukan secara bertahap atau prosedural?

3. Apa maksudnya evaluasi media pembelajaran? Dan kapan suatu media pembelajaran perlu dievaluasi?